Minggu, 19 Februari 2017

Anggur Merah


Dengan tawa meruah, seperti anggur merah:
secepat itu – angin mengecup dadamu,
dalam buaian dahan-dahan dedalu.
Betapa dalam aku minum,
nafasmu yang manis
menertawaiku: mabuk dan liar,
saat embusan angin menciummu:
mencekik kasta kalimatku !



Sleman, 19 Februari 2017

Selasa, 14 Februari 2017

P R T S !


Apakah ada ungkapan yang dapat mewakili isi pikiran dan perasaanku saat ini ? Atau, adakah syair yang patut dilantunkan sebagai bentuk protes terhadap waktu ? Di mana perasaan orang-orang itu ? Kapan aku pergi dari neraka ini ? Mengapa aku masuk dalam neraka ini ? Bolehkah aku menentang garis tangan ini ? Jika tidak, dan aku harus pasrah, mengapa ini semua terjadi padaku ?

Aku yakin, ini adalah skenario rapi yang telah dipersiapkan untukku. Bukan terjadi begitu saja tanpa alur. Ya, untukku, meskipun aku takkan pernah tahu apa maksud dari ini semua. Karma, pendewasaan, belajar ikhlas menghadapi kehilangan, ujian hidup, bla bla bla...

Jika itu adalah maksud tersirat dari inti semua ini, aku akan berkata, “Tanpa itu semua, aku bisa. Tanpa ujian itu, aku lulus. Tanpa dikorbankan, aku akan tetap kuat. Tanpa menghilangkan, aku ikhlas. Tanpa dalih pendewasaan, aku baligh”.

Ya, aku bisa tanpa harus selalu menjadi pesakitan yang terkorban. Apabila hikmah itu ada, biar hikmah itu aku tinggal. Takkan kucari lagi. Akan kubuang, dan takkan lagi kuperhatikan. Sesal tiada arti ! Akan kukutuk kesendirian ini. Akan kuserapahi kesepianku. Dan, akan kuperjuangkan segala cita-cita dan keinginanku, sampai semua tercapai. Lalu, kupertanggungjawabkan semua yang telah kulalui.

Empatbelas dua duaributujuhbelas, sebelas empatpuluhenam malam; Aku nyatakan “protes” !


Bantul, 14 Februari 2017

Minggu, 25 Desember 2016

Semusim di Neraka


––– salah satu judul buku karya Jean Nicolas Arthur Rimbaud

Kini, ketika kudapati diriku siap membusuk, aku berpikir untuk mencari kunci kepada pesta dansa yang dulu itu. Mungkin, bisa kutemukan keyakinan lagi”.

Carilah kematian dengan seluruh gairahmu, semua kecintaan pada diri, dan tujuh dosa tak terampuni,” seru Jean Nicolas Arthur Rimbaud, penyair Perancis yang disersi “Semusim di Neraka” 140 tahun yang lalu, di sebuah kota bernama Salatiga.


Antara Yogyakarta dan Salatiga, Natal 2016

Salatiga


Bahkan, (di sinilah) roh puisi Arthur Rimbaud masih tersugesti mengawang di langitlangit batin penciptaan; dari sejak lahir, sampai di liang pengakhiran, tanpa peduli bualan atau katakata hiburan: tak bertulangbelakang.

Dan, salahkah jika kau awal dari semuanya ? Karna, apapun yang kurasa, terlalu rumit dituangkan: lewat kata.

Terima kasih untuk tiap waktu, yang akhirnya menjadi cerita:
– Salatiga. 


Antara Yogyakarta dan Salatiga, Natal 2016

Rabu, 17 Agustus 2016

Tanah Indah, Tempat Segala Bermula


Hai tanah tua; dimana senja takkan lelah menjingga, di sisi wajah seorang Hawa ! Masih bisakah kau berdamai dengan terang, saat airmata mengiris palung hati terdalam ?

Hai bangsa; yang menyimpan harapan, di balik langit-langit batin penciptaan ! Masih bisakah kau berbahagia, pada pucat pasi rindu dan cinta tak kasat mata ?

Kutahu ada banyak gelisah, ada campuran takut nada sumbang menyertaimu melangkah. Tapi, kita pernah sama-sama kerasukan tersesat kenikmatan, dimana jelaga pekat mimpi tentangmu selalu anggun berpendar, dan mematikan.



Tanah Indah, 17 Agutus 2016

Jumat, 27 Mei 2016

Igitur


Apakah di ujung pertemuan semua kisah berakhir atau berulang ? Takkan ada kenang-kenangan dari masa lampau. Begitupun takkan ada kenang-kenangan pada mereka, yang hidup sesudahnya: di masa depan.

Perulangan adalah sesuatu yang tak terelakkan, tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari”, begitulah ucapan Solomo Sang Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem 3000 tahun yang lalu.


Salatiga, 27 Mei 2016

Senin, 11 April 2016

Menjelang HiIang


Sesumbar selamat tinggal hanyalah kosakata;
Kita sama-sama ingin mengucapkannya, tapi takkan pernah bisa.
Keluarlah dari rasa nyaman perlahan, dimana senja beranjak kian dasar, puan ! Karena dengan cara demikian, keindahanmu takkan tergoyahkan; bersama senyum sabit merah jambu yang kusakukan: dalam kesaksian, yang menyakitkan.


Kulon Progo, 11 April 2016

Minggu, 31 Januari 2016

Menara Debu


––– ditulis dengan nuansa lagu Festivalist dan Nightwish

tujuh kata dalam sepekan
dalam pagi cerah, sore redup
milik jelaga matahari itu juga
di bumi, di tanah indah
semua setan atau malaikat
adalah sahabat sejati, sekaligus musuh sejati

tepat pada hari dimana aku mati
menara debu mencipta gulita-terang hari
syair melodi mengerjap
walau cuma debu
ia mengerdip perih di bola mata

dan mata pisau mengalir
di debar gubahan sekelebat
dengan keranda sajak serapah
berantakan menghunjam
mengisi sepenuh ruang

apa bahasa lainku untuk menyatakan ?
suka-cita penantian ?

biar tersimpan dalam lipat ingatan
atau lumer menjelma hablur kenangan
sampai tuhan tak berkenan
sampai tuhan tak berkenan
sampai tuhan tak berkenan


Bantul, Akhir Januari 2016