Sabtu, 26 Desember 2015

Philophobia


mungkin,
philophobia ini akut: tak tersembuhkan
tapi,
inikah potret dunia yang kutinggali ?
atau, inikah perjalanan mimpi: ke mimpi
yang takkan pernah usai ?

beri tahu aku, harus dari mana mulai kurajut mimpi yang tak sempat terjadi ?
beri tahu aku, apa yang harus disyukuri saat hujan mata pisau mulai mengguyuri ?



Bantul, 26 Desember 2015

Selasa, 13 Oktober 2015

Aksara Mentari


Kuhias aksaraku dengan sinar, layaknya sang bintang,
agar ia mampu menarik hatimu: saat langit terpandang.
Namun, barulah kusadari.
Di hari ini kugantungkan aksaraku: di langit siang,
dimana tak satupun bintang nampak bersinar – terlahap mentari.



Bantul, 13 Oktober 2015

Senin, 12 Oktober 2015

Dalam Diri (Semua Berpikir Seperti Batu)


Apa yang harus dilakukan tuk menjadi manusia yang dianggap sama dan setara ?
Aku, kau, dia, kalian, mereka; takkan bisa berubah

Siapa aku ?
Siapa kau ?
Siapa dia ?
Siapa kalian ?
Siapa mereka ?

Aku tak tahu aku
Kau tak tahu aku
Dia tak tahu aku
Kalian tak tahu aku
Mereka tak tahu aku

Aku tak bisa berdiri sendiri
Kamu tak bisa berdiri sendiri
Dia tak bisa berdiri sendiri
Kalian tak bisa berdiri sendiri
Mereka pun tak bisa berdiri sendiri

Aku, kau, dia, kalian, mereka; tak bisa hidup sendirian
Aku, kau, dia, kalian, mereka; takkan bisa
Aku, kau, dia, kalian, mereka; sama saja: makhluk lemah


Yogyakarta, 12 Oktober 2015

Kamis, 08 Oktober 2015

Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh


Kita duduk, menanti pagi. Menghisap beberapa batang rokok, sedikit saja berasap pekat. Mengobrol entah ke mana, entah tentang apa. Entah ke mana ujung percakapan kita: ke sana, atau tiada. Hening pantai bagai senyumanmu. Ombak dan malam tak bersuara, sesenyap lukisan pasir tentang hidupmu.

“Terkadang, harapan hanyalah sebuah kalimat penenang”
katamu.
“Tapi, kenangan takkan mati”
jawabku.
 
Jadi, apa yang tepat kita lakukan selain tertawa, saat setengah kesadaran jiwa kita hilang tak terjaga.

Drama itu, akan selalu bercerita tentang rasa yang entah bagaimana mendeskripsikannya. Dan gelap, melengkapi keganjilan-keganjilan, tanpa kau dekap. Sesekali, anggur merah masih bernostalgia pada ubun-ubun puncak malam itu, di antara pucat pasi wajah cinta(ku).

Memang, engkaulah samudera
yang karam menenggelamkanku, di palung hatimu paling dalam.


Poncosari, 8 Oktober 2015

Selasa, 15 September 2015

Tuhan Profan


kau berikanku cahaya
kau tunjukkan jalan menuju terangnya
namun, kau sendiri yang memadamkannya

aku terkapar dalam gelapnya
aku samar melihat bayangnya
kau ada, dalam rona harap yang berbeda
tuhan...



Bantul, 15 September 2015

Minggu, 21 Desember 2014

Kutukan Lautan


kita dikutuk untuk selalu ke laut;
hanyut atau sampar
mencapai atau terdampar
berlayar atau tenggelam
tapi, lautan mana tak menyimpan badai ?
bayang-bayang mana tak diurapi jelaga matahari: saat begini tenang ?

hanya sedikit huruf, tak lengkap
menghambur kunci mulutku
susah-payah kurangkai, dengan bahasa sesabar batu
namun, tak pernah selesai

kini, di bait ketiga
kapalku mengembara
pada senja
yang luruh serupa candu
dari sedikit buih di bibirmu
tempat segala bermula: kapan saja


Pantai Ngobaran, 21 Desember 2014

Samudera Air Mata


––– diadopsi dari puisi “Laut yang Tak Bertepi” karya Astaman Hasibuan

di Pantai Ngobaran,
di tepian selatan, di Lautan Hindia
ketika sauh dilabuh, dipundak menghimpit
kapan jalan panjang ini berujung ?
kapan jalan ini bertepi ?

nun jauh di sana;
di laut biru yang indah
tak ada yang berubah,
seperti diamnya jawabmu: atas tanyaku.


Pantai Ngobaran, 21 Desember 2014

Kamis, 06 Februari 2014

Peri Malam yang Tersesat


semu gema bayang hitam
butir-butir malam menyapa perlahan
aroma tanah serupa candu mengendap
sisihkan peri malam yang tersesat

wajah-wajah murung menyeringai
pun teduh payung baja menengadah
–  yang terlepas: kerudung hitam tertanggal
tepat makhluk jejadian digentayangkan: malam

khayal indah di sela pasrah
dendang damai di puncak syahwat
terpujilah sang penggadai kenikmatan !
–  yang kasmaran, tak terucapkan

secawan anggur ingatkan bayang yang masih meraja
menangis dalam tertawa, sedih dalam gembira
atau sebaliknya,
tak ada bias bholam memancar di kamar: temaram ?

biarlah bilah-bilah setan hantam jiwa !
–  sandarkan kelam sejuta kata
tak ubah ambrosia buai sukma;
jauhkan duka, pun jua nestapa

semoga, petir di luar melebatkan !
biar redup fajar hanyutkan tikus-tikus di Ombak Selatan


Pantai Parangkusumo, 6 Februari 2014