Aku merasa bosan menemanimu bermimpi, seolah kau membuatku terus-menerus menginspirasi kematianku. Siapapun kau, sadarkan aku !
Selasa, 15 September 2015
Tuhan Profan
kau berikanku cahaya
kau tunjukkan jalan menuju terangnya
namun, kau sendiri yang memadamkannya
aku terkapar dalam gelapnya
aku samar melihat bayangnya
kau ada, dalam rona harap yang berbeda
tuhan...
Bantul, 15 September 2015
Minggu, 21 Desember 2014
Kutukan Lautan
kita dikutuk untuk selalu ke laut;
hanyut atau sampar
mencapai atau terdampar
berlayar atau tenggelam
tapi, lautan mana tak menyimpan badai ?
bayang-bayang mana tak diurapi jelaga matahari: saat begini tenang ?
hanya sedikit huruf, tak lengkap
menghambur kunci mulutku
susah-payah kurangkai, dengan bahasa sesabar batu
namun, tak pernah selesai
kini, di bait ketiga
kapalku mengembara
pada senja
yang luruh serupa candu
dari sedikit buih di bibirmu
tempat segala bermula: kapan saja
Pantai Ngobaran, 21 Desember 2014
Samudera Air Mata
––– diadopsi dari puisi “Laut yang Tak Bertepi” karya Astaman Hasibuan
di Pantai Ngobaran,
di tepian selatan, di Lautan Hindia
ketika sauh dilabuh, dipundak menghimpit
kapan jalan panjang ini berujung ?
kapan jalan ini bertepi ?
nun jauh di sana;
di laut biru yang indah
tak ada yang berubah,
seperti diamnya jawabmu: atas tanyaku.
Pantai Ngobaran, 21 Desember 2014
Kamis, 06 Februari 2014
Peri Malam yang Tersesat
semu gema bayang hitam
butir-butir malam menyapa perlahan
aroma tanah serupa candu mengendap
sisihkan peri malam yang tersesat
wajah-wajah murung menyeringai
pun teduh payung baja menengadah
– yang terlepas: kerudung hitam tertanggal
tepat makhluk jejadian digentayangkan: malam
khayal indah di sela pasrah
dendang damai di puncak syahwat
terpujilah sang penggadai kenikmatan !
– yang kasmaran, tak terucapkan
secawan anggur ingatkan bayang yang masih meraja
menangis dalam tertawa, sedih dalam gembira
atau sebaliknya,
tak ada bias bholam memancar di kamar: temaram ?
biarlah bilah-bilah setan hantam jiwa !
– sandarkan kelam sejuta kata
tak ubah ambrosia buai sukma;
jauhkan duka, pun jua nestapa
semoga, petir di luar melebatkan !
biar redup fajar hanyutkan tikus-tikus di Ombak Selatan
Pantai Parangkusumo, 6 Februari 2014
butir-butir malam menyapa perlahan
aroma tanah serupa candu mengendap
sisihkan peri malam yang tersesat
wajah-wajah murung menyeringai
pun teduh payung baja menengadah
– yang terlepas: kerudung hitam tertanggal
tepat makhluk jejadian digentayangkan: malam
khayal indah di sela pasrah
dendang damai di puncak syahwat
terpujilah sang penggadai kenikmatan !
– yang kasmaran, tak terucapkan
secawan anggur ingatkan bayang yang masih meraja
menangis dalam tertawa, sedih dalam gembira
atau sebaliknya,
tak ada bias bholam memancar di kamar: temaram ?
biarlah bilah-bilah setan hantam jiwa !
– sandarkan kelam sejuta kata
tak ubah ambrosia buai sukma;
jauhkan duka, pun jua nestapa
semoga, petir di luar melebatkan !
biar redup fajar hanyutkan tikus-tikus di Ombak Selatan
Pantai Parangkusumo, 6 Februari 2014
Sabtu, 04 Januari 2014
Tanah, Api, Cahaya
––– diadopsi dari catatan facebook Ary Modjo berjudul “Sampai Tuhan Tak Berkenan”
Terserah...
Aku bukan malaikat yang tercipta dari cahaya tenang, yang punya satu tujuan: hanya untuk mengabdi.
Terserah...
Kalau aku ternyata setan yang tercipta dari api, yang berkobar, menggebu, menjilat: siap menghasut para pengabdi.
Nyatanya,
Aku hanya tercipta dari segumpal tanah, yang menjadikan daging dan roh untuk hidup, yang tercipta dan diberikan komponen bernama “hati”. Bongkah tanah yang diberi air dan ilmu, menyerap dan mengembang dengan pemikiran tak terbatas: yang tak ada dalam karya cipta sebelumnya, yang menjadikan senjata untuk melawan atau dilemahkan.
Tanah ini mudah dibentuk sesuai keinginan pikiran dan hati – sampai sombong sendiri. Tapi, aku hanya tanah yang pada titik terpanas juga akan pecah dan musnah, luruh dan jatuh dalam hempasan waktu.
(jadi murni dan bebas – sampai Tuhan “tak berkenan” !)
Yogyakarta, 4 Januari 2014
Minggu, 06 Februari 2011
Menantang Kesepian
––– diadopsi dari puisi “Bimbang” karya Emha Ainun Nadjib
Bukankah, tiap orang memikul kebenaran, seperti Yesus memikul salibnya ?
Bukankah, tiap orang memiliki bakat jatuh, seperti jatuhnya Adam-Hawa dari nirwana ?
Bukankah, anjing selalu setia meski diharamkan ?
Bukankah, lingkaran takkan koyak oleh runcingnya pentagram ?
Ayub memahami makna sakit, Yunus menghayati konyolnya keputusasaan, Ibrahim tahu apa yang musti dilawan dengan kapak, Musa ngerti ilmu sihir – dari zaman ular hingga industri
Adapun kita, merelakan diri jadi bahan tertawaan;
disingkirkan dan berusaha bertahan dari kesepian
2011
Bukankah, tiap orang memiliki bakat jatuh, seperti jatuhnya Adam-Hawa dari nirwana ?
Bukankah, anjing selalu setia meski diharamkan ?
Bukankah, lingkaran takkan koyak oleh runcingnya pentagram ?
Ayub memahami makna sakit, Yunus menghayati konyolnya keputusasaan, Ibrahim tahu apa yang musti dilawan dengan kapak, Musa ngerti ilmu sihir – dari zaman ular hingga industri
Adapun kita, merelakan diri jadi bahan tertawaan;
disingkirkan dan berusaha bertahan dari kesepian
2011
Pungkasane Kokrosono Triwikromo
Gusti,
jika dunia hanya milik si cantik dan tampan
apakah darah pengorbananku
hanya ternilai
dari cacat-cela rupaku
hingga Sumantri
tega membunuhku
Gusti,
tak entengke patiku
tinimbang
aku kalah
2011
jika dunia hanya milik si cantik dan tampan
apakah darah pengorbananku
hanya ternilai
dari cacat-cela rupaku
hingga Sumantri
tega membunuhku
Gusti,
tak entengke patiku
tinimbang
aku kalah
2011
Langganan:
Postingan
(
Atom
)






