Sabtu, 04 Januari 2014

Tanah, Api, Cahaya


––– diadopsi dari catatan facebook Ary Modjo berjudul “Sampai Tuhan Tak Berkenan”

Terserah...
Aku bukan malaikat yang tercipta dari cahaya tenang, yang punya satu tujuan: hanya untuk mengabdi.
Terserah...
Kalau aku ternyata setan yang tercipta dari api, yang berkobar, menggebu, menjilat: siap menghasut para pengabdi.

Nyatanya,
Aku hanya tercipta dari segumpal tanah, yang menjadikan daging dan roh untuk hidup, yang tercipta dan diberikan komponen bernama “hati”. Bongkah tanah yang diberi air dan ilmu, menyerap dan mengembang dengan pemikiran tak terbatas: yang tak ada dalam karya cipta sebelumnya, yang menjadikan senjata untuk melawan atau dilemahkan.

Tanah ini mudah dibentuk sesuai keinginan pikiran dan hati – sampai sombong sendiri. Tapi, aku hanya tanah yang pada titik terpanas juga akan pecah dan musnah, luruh dan jatuh dalam hempasan waktu.

(jadi murni dan bebas – sampai Tuhan “tak berkenan” !)


Yogyakarta, 4 Januari 2014

Minggu, 06 Februari 2011

Menantang Kesepian



––– diadopsi dari puisi “Bimbang” karya Emha Ainun Nadjib
 
Bukankah, tiap orang memikul kebenaran, seperti Yesus memikul salibnya ?
Bukankah, tiap orang memiliki bakat jatuh, seperti jatuhnya Adam-Hawa dari nirwana ?

Bukankah, anjing selalu setia meski diharamkan ?
Bukankah, lingkaran takkan koyak oleh runcingnya pentagram ?

Ayub memahami makna sakit, Yunus menghayati konyolnya keputusasaan, Ibrahim tahu apa yang musti dilawan dengan kapak, Musa ngerti ilmu sihir – dari zaman ular hingga industri

Adapun kita, merelakan diri jadi bahan tertawaan;
disingkirkan dan berusaha bertahan dari kesepian


2011

Pungkasane Kokrosono Triwikromo


Gusti,
jika dunia hanya milik si cantik dan tampan
apakah darah pengorbananku
hanya ternilai
dari cacat-cela rupaku
hingga Sumantri
tega membunuhku

Gusti,
tak entengke patiku
tinimbang
aku kalah



2011